BAHAYA SAMPAH BAGI MAKHLUK LAUT


 Sampan plastik merupakan faktor utama penyebab kerusakan ekosistem di 

laut. Situasi sosial-ekonomi masyarakat Indonesia yang seolah bergantung pada 

penggunaan plastik, menyebabkan penumpukan sampah plastik, baik di darat 

maupun di laut. 


Sampah plastik mampu mengakibatkan kerusakan terumbu karang. 

Terumbu karang berfungsi sebagai habitat bagi organisme lain, oleh karena 

itu keberadaan terumbu karang sangat berpengaruh terhadap kehidupan oragnisme 

laut yang lain. Studi dari Joleah B Lamb (2018) menyebutkan bahwa 89% terumbu 

karang yang bersentuhan dengan sampah plastik cenderung terjangkit penyakit karena 

sampah plastik mampu memicu terjadinya kolonisasi mikroba patogen. Sampah 

plastik akan tersangkut dan menutupi terumbu karang, sehingga proses fotosintesis 

akan terganggu.

Penelitian Jambeck mengeluarkan hasil riset soal fakta sampah plastik di laut 

dalam jurnal yang berjudul Plastic Waste Inputs From Land Into The Ocean. Data 

tersebut mengesahkan posisi Indonesia berada dinomor dua sebagai penyumbang 

sampah plastik ke lautan di dunia. China menghasilkan jumlah sampah terbesar di 

laut, yaitu 262,9 juta ton sampah, Indonesia (187,2 juta ton), Filipina (83,4 juta ton), 

Vietnam (55,9 juta ton), dan Sri Lanka (14,6 juta ton).


Bahaya serta ancaman sampah membutuhkan waktu ratusan tahun untuk

terurai sempurna. Dalam prosesnya sampah hancur menjadi partikel-partikel kecil,

menyebar di perairan dan tanpa sadar dikonsumsi oleh hewan-hewan di lautan.

Sampah-sampah itu terus membunuh makhluk hidup di lautan. Berdasarkan

penelitian yang diterbitkan Sekretariat Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati

(United Nations Convention On Biological Diversity) pada 2016, sampah di lautan

telah membahayakan lebih dari 800 spesies. Dari 800 spesies itu, 40% nya adalah

mamalia laut dan 44% lainnya adalah spesies burung laut. Data itu kemudian

diperbarui pada Konferensi Laut PBB di New York pada 2017 lalu.

Partikel-partikel sampah plastik (mikro plastik) tidak hanya memberikan

dampak buruk bagi biota laut saja. Dalam jangka panjang, manusia juga akan terkena

dampaknya. Hal itu terjadi karena manusia mengonsumsi ikan dan produk-produk

dari laut. Ikan/hewan laut yang sudah menelan mikro plastik akan menyerap

racunnya. Racun ini lalu berpindah ke manusia yang memakannya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah plastik

yaitu dengan mengurangi penggunaan plastik ditengah-tengah masyarakat.

Pemerintah dapat melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang dampak

sampah plastik terhadap lingkungan. Mulai menerapkan pola hidup tanpa plastik

dengan solusi-solusi sederhana seperti mengganti tas plastik dengan totebag,

menggunakan sedotan kertas atau sedotan stainless sebagai ganti dari sedotan plastik,

lebih memilih untuk mendaur ulang plastik menjadi barang yang kreatif dan

unik daripada harus membuangnya. Dari hal-hal sederhana tersebut kita sebagai

masyarakat sudah sedikit berkontribusi terhadap keselamatan ekosistem laut. Karena

biota-biota laut pun sudah cukup menderita akibat ulah manusia yang tidak

bertanggungjawab padahal manusia masih membutuhkan ekosistem laut sebagai

sumber rezeki. Oleh karena itu, mulai dari sekarang kurangilah penggunaan plastik

yang bisa merusak lingkungan dan jagalah lingkungan disekitar kita.

Komentar

Postingan Populer